<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7081155753074525083</id><updated>2012-02-17T01:31:17.444+07:00</updated><title type='text'>Artikel Tanah Air - ku</title><subtitle type='html'>Tanah Sewa - Air Beli</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7081155753074525083.post-7464798937638722570</id><published>2010-01-04T23:02:00.013+07:00</published><updated>2010-01-05T00:53:28.392+07:00</updated><title type='text'>Membongkar Gurita Cikeas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://mugi-bangsa.blogspot.com/"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 90px; height: 122px;" src="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/HOBY/Membaca/Gurita%20Cikeas/gurita-cikeas.png" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Buku "Membongkar Gurita Cikeas" sekarang ini semakin heboh dan menjadi buku yang paling dicari di Indonesia. Bukan karena buku ini menggemakan judul yang antik dan membongkar rahasia, tetapi ibarat gadis perawan yang cantik dan menjadi kembang desa, lalu tiba-tiba menghilang tanpa sebab. Tentu saja "para pria" menjadi semakin menggilai dan merindukannya untuk mendapatkan gadis itu kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya saya sempat menduga hilangnya buku ini dari peredaran hanyalah sebuah strategi marketing, dan ternyata.... Betul.!!(setidaknya menurut saya pribadi). Saya sudah membaca buku ini dalam bentuk pdf. (&lt;a href="https://www.opendrive.com/files?5958711_SJCMu_ad85"&gt; klik disini untuk download: Membongkar Gurita Cikeas&lt;/a&gt; ).&lt;span class="fullpost"&gt; Ternyata tidak seheboh yang digembar-gemborkan. Data yang disajikan tidak sedahsyat yang dibayangkan, bahkan kekhawatiran atas presiden SBY benar terlibat dalam skandal korupsi juga tidak mendapatkan pembahasan yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Bank Century bahkan sekedar menjadi bayang-bayang yang remang-remang saja. Malah buku "membongkar gurita cikeas" lebih banyak menyoroti Yayasan-yayasan yang didirikan SBY, yang dicurigai mendapatkan dana gelap dari para koruptor tersebut.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7081155753074525083-7464798937638722570?l=mugi-bangsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/feeds/7464798937638722570/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7081155753074525083&amp;postID=7464798937638722570&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/7464798937638722570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/7464798937638722570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/2010/01/membongkar-gurita-cikeas.html' title='Membongkar Gurita Cikeas'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7081155753074525083.post-4018670552065401034</id><published>2008-04-28T19:39:00.005+07:00</published><updated>2009-12-06T02:03:14.512+07:00</updated><title type='text'>Agar UN Jadi Dambaan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tindakan pembocoran atau kecurangan dalam pelaksanaan UN (ujian nasional) sebetulnya sudah dapat dipastikan dan tidak lagi menjadi sebuah prediksi. Sehingga kasus yang terjadi (Rabu, 23/4/2008) di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, bukanlah berita mengejutkan. Kalaupun berita tersebut menjadi heboh, hal ini lebih ditekankan pada keterkaitan anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror Kepolisisan Daerah Sumatera Utara yang melakukan penggerebekan dengan membuka paksa sebuah ruangan dan memergoki para guru yang membetulkan lembar jawaban siswa peserta UN. Sehingga memicu komentar &lt;span class="fullpost"&gt; dari dunia pendidikan, bahwa tindakan tersebut terlalu berlebihan, mengingat sudah ada tim pengawas independen. Sebetulnya kecurangan tersebut banyak terjadi di berbagai wilayah, hanya saja berupa letupan kecil, sehingga sinarnya tidak cukup menyilaukan seperti ledakan kasus yang terjadi di SMAN 2 Lubuk Pakam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan berpegang pada aspek kognitif dan mengabaikan aspek lain, pemerintah menjadikan UN sebagai penentu kelulusan siswa. Artinya siswa setanah-air wajib mengikuti UN yang dibuat dengan standard kompetensi yang diciptakan sendiri oleh pemerintah. Para penguasa tersebut merasa yakin, karena kurikulum yang dibuat untuk seluruh sekolah adalah sama. Namun, apakah tepat jika tingkat kesulitan pengerjaan soal dibuat sama, sedangkan sarana dan prasarana tiap-tiap sekolah dalam satu daerah saja bisa jauh berbeda? Apalagi jika membandingkan sekolah elit di Jakarta dengan sekolah yang nun jauh di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski rata-rata sekolah di Jakarta sudah cukup baik, faktor pendukung lain juga turut menentukan tingkat keberhasilan pendidikan di sekolah. Di Jakarta sendiri, tidak semua sekolah memiliki laboratorium komputer dan internet, lab fisika, lab kimia; belum lagi bimbingan belajar di luar sekolah yang hanya terdapat di kota-kota besar. Tingkat pendidikan para pengajar di tiap sekolah juga berbeda, ada yang sarjana, master bahkan diploma, yang juga berpengaruh pada cara mereka mengajar. Bagaimana nasib siswa yang bersekolah di suatu wilayah yang serba kekurangan aspek pendukung tersebut? Atau meskipun ada, apakah orangtuanya tergolong mampu mengeluarkan biaya tambahan untuk anaknya mengikuti les di luar sekolah? Tak perlulah kiranya saya ceritakan perihal siswa yang harus menempuh beberapa kilometer dengan berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memberikan keadilan yang merata, justru akan tercipta ketidak-adilan. Tidak ada satupun perusahaan yang menggaji karyawan dengan jumlah yang sama. Semua dibedakan berdasarkan tanggung jawab dan wewenangnya. Jadi dapat dikatakan, keputusan pemerintah untuk memaksakan UN sebagai syarat kelulusan adalah sebuah ketidak-adilan. Mengapa? Karena mengharapkan bayi-bayi sehat dengan memberikan gizi yang berbeda (bahkan beberapa bayi dibiarkan terlantar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menetapkan bantuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan hardskill atau softskill, banyak perusahaan memberikan pendidikan pada karyawannya dengan training, pelatihan atau seminar yang diadakan lembaga-lembaga khusus dengan maksud menciptakan personal yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Hal ini menguntungkan karyawan, selain keterampilannya meningkat, kejiwaan merekapun menjadi lebih baik karena diperhatikan perusahaan. Performa kerja mereka menjadi lebih baik lagi, dan ujungnya dapat meningkatkan profit perusahaan. Namun pemberian training tersebut tidak hanya didasarkan pada kesukaan terhadap karyawan tertentu atau sekedar dijadikan selingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian training dapat dilakukan dengan melihat pada job description dan competencies pada masing-masing seksi atau bagian sampai departemen. Dengan hasil kompetensi tersebut, maka dapat ditentukan siapa saja yang berhak diberikan pelatihan sesuai dengan porsi pekerjaan untuk meningkatkan keterampilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Agar UN jadi dambaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Agar lebih tepat sasaran, UN tidak perlu dihapuskan, namun fungsinya digeser, tidak sebagai penentu kelulusan siswa, namun menjadi barometer kompetensi sekolah di tiap-tiap daerah. Sehingga setelah dilakukan UN, pemerintah dapat mengevaluasi daerah mana saja yang perlu segera diberikan bantuan untuk meningkatkan kompetensi pendidikannya. Dengan begitu, dapat diketahui di daerah X misalnya, perlu diberikan bantuan buku-buku atau jika boleh bermuluk-ria, dibuatkan laboratorium seperti lab fisika, kimia, komputer bahkan mungkin keringanan biaya sekolah bagi siswa kurang mampu. Kalau tidak boleh bermimpi, setidaknya tidak ada lagi atap sekolah yang bocor atau kondisi lain yang memaksa siswa harus belajar di luar sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal ini dilakukan, maka kemungkinan kecurangan untuk mendapat nilai bagus akan nol, karena jika mereka memaksakan demi nilai bagus, maka hasil kompetensi akan tinggi, dan mereka tidak patut mendapat bantuan (hal ini tentu bertentangan dengan usaha mereka yang terus-menerus memohon bantuan ke pusat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu saat kelak, dimana nilai kompetensi seluruh daerah nyaris sama, maka pemerintah dapat menetapkan UN sebagai syarat kelulusan siswa. Untuk saat ini, cukuplah masing-masing daerah membuat sendiri standard kelulusan siswanya. Pemerintah cukup mengawasi dan menyebarkan informasi hasil evaluasi kompetensi dari masing-masing daerah. Sehingga saat perusahaan bermaksud menerima siswa lulusan suatu daerah untuk bekerja sebagai karyawannya, mereka dapat mengukur bahwa nilai 6 di daerah X (daerah dengan kompetensi rendah) sama dengan nilai 9 di Jakarta (mungkin daerah dengan kompetensi tertinggi).&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7081155753074525083-4018670552065401034?l=mugi-bangsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/feeds/4018670552065401034/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7081155753074525083&amp;postID=4018670552065401034&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/4018670552065401034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/4018670552065401034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/2008/04/agar-un-jadi-dambaan.html' title='Agar UN Jadi Dambaan'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7081155753074525083.post-5289029946335269573</id><published>2008-03-31T18:21:00.003+07:00</published><updated>2008-03-31T18:37:33.457+07:00</updated><title type='text'>KITA BANGSA YANG  PERMISIF PADA KORUPSI?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Tanggapan atas tulisan Kompas, Sabtu, 22 Maret 2008 pada kolom “Pemberantasan Korupsi”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia orang lain diwarnai dengan nilai, sikap dan kepercayaannya sendiri, bukan milik saya atau milik kita. Sehingga saat kita mencoba masuk dalam kehidupannya dengan menghakimi nilai, sikap atau kepercayaannya tersebut, maka kecenderungan yang kita terima adalah penolakan untuk berubah, dan biasanya mereka justru menjadi semakin kental dengan pendapat dan perilakunya sendiri. Ini dapat kita lihat saat kita memberikan kritikan, baik dengan lisan, tulisan atau show force dengan demonstrasi di jalan. &lt;span class="fullpost"&gt;Meski kritikan dari masyarakat sering hanya menabrak angin, namun rakyat tetap peduli pada nasib bangsa ini di kemudian hari. Bahkan masyarakat sering menderita kekalahan ataupun kerugian dengan tidak mengizinkan atau tidak mentolerir korupsi, dan jumlah penentang korupsi ini semakin bertambah banyak, karena mereka sadar ada hal esensial yang patut diperjuangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita menyadari bahwa tidak lagi relevan menangkal korupsi dengan isu moral yang berkenaan dengan rasa malu, dimana malu tidak lagi dimiliki oleh koruptor. Atau berharap pada para koruptor untuk mau mendengarkan suara hati kecilnya, yang selain kecil juga letaknya jauh di dalam, maka dapat dipastikan suara hati kecil “nyaris tak terdengar”. Sama halnya dengan agama, karena dipikirnya adalah urusan tanggung-jawab di hari kemudian; itupun bila mereka percaya akan hari akhir. Yang diharapkan pelaku korupsi saat ini adalah penghargaan atas kekayaan yang dimilikinya, sebagaimana masyarakat terbiasa menghargai seseorang dari harta yang dimiliknya, tanpa peduli darimana diperoleh. Namun kini masyarakat sudah menyadari bahwa korban utama tindakan korupsi adalah rakyat, bukan Negara. Kini mereka menyadari bahwa mustahil mempercayakan penuh kepada pemerintah dalam menanggulanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya kritikan yang dilepas masyarakat, membuktikan bahwa mereka tidak permisif pada korupsi. Ini agak berbeda dengan pendapat yang dikeluarkan Bapak Soetandyo Wignjosoebroto, seorang mantan dosen Universitas Airlangga Surabaya. Beliau mengatakan korupsi di Indonesia telah berurat berakar. Ia cenderung hidup dalam sikap bangsa yang cenderung permisif terhadap kelalaian dan kesalahan kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan hal tersebut, saya coba bercermin diri dari pengalaman. Suatu ketika saya pernah berkendara melalui Jalan Pamekasan dan berbelok ke kiri masuk Jalan Sumenep, kemudian diberhentikan petugas lalu-lintas dengan alasan melanggar 3 in 1. Sambil menunjukkan peta Jakarta, saya berdebat tentang siapa yang benar hingga sejam lebih. Hasilnya, saya ditilang karena tiga pasal: pertama melanggar rambu, melanggar 3 in 1 dan melawan petugas. Surat tilang ini saya terima setelah saya menolak tawaran bebas dengan memberi sejumlah uang yang ditetapkan. Tentu saja saya memilih ditilang karena beranggapan uang yang saya berikan akan masuk kas negara. Pada waktu yang telah ditentukan untuk sidang perkara pelanggaran tersebut, ternyata berkas saya belum dilimpahkan ke pengadilan, artinya SIM saya masih dipegang oleh petugas. Kejadian ini tentu saja dapat membuat seseorang menjadi malas berurusan dengan penegak hukum yang mempermainkan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi peristiwa yang kapasitasnya jauh lebih besar dan mampu membuat rakyat segan berurusan dengan orang yang memegang kekuasaan. Sikap takut akan menderita lebih banyak kerugian bila mereka mengkritik penguasa, tidak dapat dikatakan permisif atau memperbolehkan. Ini adalah sikap takluk dari seseorang yang tidak memiliki kekuatan untuk melawan, seperti pepatah yang mengatakan “Kalau tak punya bedil di pinggang, lebih baik berpedang lapang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara melawan korupsi&lt;br /&gt;Banyak solusi yang ditawarkan pakar-pakar “good governance” dalam memberangus korupsi. Namun ada empat hal mendasar yang perlu dimiliki, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Kemauan. Dengan kemauan yang kuat, niscaya akan ditemukan cara yang tepat dalam memberantas korupsi. Bukankah Tuhan tidak akan merubah nasib suatu bangsa, jika bangsa tersebut tidak merubahnya. Percayalah dimana ada kemauan di situ ada jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Penyebaran informasi. Berita mengenai perilaku tidak jujur, harus dapat menyebar dengan cepat, sehingga masyarakat dapat langsung mengontrol dan meminimalkan potensi yang dapat menutup-nutupi tindakan korupsi. Juga sebarkan terus menerus berita kepada masyarakat luas mengenai lembaga-lembaga pemerintah atau indipenden yang menampung dan menindak-lanjuti perkara korupsi, lengkap dengan alamat, telpon, e-mail, dan cara memberikan laporan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Perlindungan saksi. Seperti pernah diberitakan rumah seorang pelapor dibakar, karena mengadukan dugaan korupsi bupati Garut (Agustus 2007). Atau berita mengenai pelapor dugaan tindak korupsi yang berbalik status menjadi terlapor. Ketiadaan jaminan atas rasa aman, membuat rakyat berpikir ulang atas iklan layanan masyarakat untuk “Lapor! Lawan Korupsi!”&lt;br /&gt;Keempat, Menggoreng ikan besar. Lakukan shock therapy dengan menghukum koruptor kakap, bukan hanya kelas teri, apalagi tebang pilih. Jika presiden saja dapat kita berhentikan, apalagi pejabat korup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Pemberantasan korupsi tidak dapat dilakukan dari bawah, karena di bawah hanya berupa dampaknya. Sama halnya dengan derasnya air terjun yang bergantung dari mata air di atas. Perlu adanya korelasi antara pemerintah dengan rakyat. Penguasa boleh saja bilang bahwa kita yang dibawah dapat menempuh jalur azas kesamaan di mata hukum, untuk membalas mereka yang meludahi kita dari atas, tapi rakyat sendiri menyadari bahwa sulit untuk meludah ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat hanyalah tumpukan kayu bakar yang berlumur minyak tanah, namun tidak memiliki api.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7081155753074525083-5289029946335269573?l=mugi-bangsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/feeds/5289029946335269573/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7081155753074525083&amp;postID=5289029946335269573&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/5289029946335269573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/5289029946335269573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/2008/03/kita-bangsa-yang-permisif-pada-korupsi.html' title='KITA BANGSA YANG  PERMISIF PADA KORUPSI?'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7081155753074525083.post-3859145969066636931</id><published>2007-07-21T10:53:00.001+07:00</published><updated>2009-10-11T01:25:18.326+07:00</updated><title type='text'>KDRT DAN AKAD PERNIKAHAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Desain/Symbol/Allah.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 130px; height: 130px;" src="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Desain/Symbol/Allah.gif" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam perjalanan menuju ke Pasar Baru, istriku berkomentar pada tabloid yang dibacanya mengenai kasus perceraian yang diajukan penyanyi dangdut Kristina Iswandari. Pedangdut ini menggugat cerai suami karena tidak tahan lantaran sering dianiaya suami.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Tega banget! Istri kok dijadikan sarung sasak, cuma buat dijadikan sarana pelampiasan amarah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beraninya kok sama wanita? Bisanya Cuma menyakiti makhluk yang lemah” Istriku mencibir.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti itulah kasus rumah tangga yang terekspose di media, yang kebetulan diwakili kalangan artis. Selalu berita yang ditonjolkan adalah wanita sebagai korban KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Mulai dari yang melapor polisi karena diperlakukan kasar oleh suami hingga banyak yang menggugat cerai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;MITOS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita sebagai makhluk lemah adalah sebuah mitos yang sudah diyakini sejak lama, karena secara fisik, kondisi mereka dianggap lebih lemah bila dibandingkan dengan pria. Karena itu, diminta atau tidak, wanita cenderung dikasihani. Keyakinan ini demikian kuat, hingga saat pria duduk di dalam angkutan umum, akan dianggap tidak berperikemanusiaan, tidak berperasaan, tidak menghargai makhluk lemah, bila tidak memberi tempat duduknya kepada wanita yang berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal yang katanya “Makhluk Lemah” ini begitu semangat dan menggebu berkeliling di Mall mencari dan menawar barang-barang yang dipajang, kendati si pria sudah sangat letih dan kelelahan menemani. Wanita justru lebih berstamina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pria tak berdaya manakala digoda wanita dan tidak sedikit para pemimpin kita yang terperosok bertekuk lutut di hadapan wanita. Bahkan banyak contoh dari tokoh dan pemimpin besar di dunia jatuh gara-gara wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;TIDAK BERIMBANG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tabloid tersebut, terpampang gambar sang artis dengan muka lebam, sama halnya tayangan kriminal di TV yang sering menampilkan ibu muda dalam kondisi muka atau tubuh luka bekas dianiaya suami. Dengan adanya Komnas Perempuan, makin bertambah panjang daftar wanita yang jadi korban KDRT, karena 100% adalah wanita yang mengadu ke lembaga tersebut, bukan pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan perceraian atau poligami yang tanpa penganiayaanpun, seringkali dianggap sebagai bentuk KDRT. Seperti kasus AA Gym yang mendapat kecaman hingga hujatan dari banyak kalangan. Hasilnya, wanita dibela! Pria terpojok; tak ada Komnas Laki-laki!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketimpangan pemberitaan ini, mungkin juga kesalahan pria. Karena banyak terjadi konflik dalam rumah tangga, dimana pria yang jadi korban KDRT dan wanita sebagai pelakunya, tapi pria enggan melapor polisi, akibatnya pemberitaan semacam ini jarang terekspose. Bukankah banyak suami yang dipukul istrinya, dilempari benda keras, hingga pernah ada suami yang dipotong (maaf) kemaluannya oleh sang istri. Para pria malu jika melaporkan ke polisi, mengundang wartawan, apalagi menggugat cerai dengan alasan bahwa dirinya dianiaya wanita. Pria tak mungkin mengadukan nasibnya ke Komnas Perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;KDRT &amp;amp; AKAD PERNIKAHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KDRT bukanlah KDIRT (Kekerasan yang Dialami Ibu Rumah Tangga), karena rumah tangga bukan hanya ada wanita. Disana ada pria sebagai suami dan juga ada anak-anak. Sayangnya kasus KDRT dipahami hanya sebagai konflik suami-istri, tidak melibatkan seluruh anggota keluarga. Kalau KDRT dipahami sebaliknya, maka ada banyak kasus kekerasan yang pelakunya adalah wanita. Kasus seorang ibu yang kejam dan sering menganiaya anaknya, kasus ibu yang membakar mati ketiga anaknya, kasus ibu yang membunuh bayinya dan masih banyak kekerasan lagi yang dilakukan wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan dalam banyak kasus KDRT adalah bahwa pria dan wanita sama-sama berpotensi menjadi pelaku kekerasan. Tidak dapat dikatakan bahwa pihak yang satu selalu menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Sebagai pelaku ataupun korban, sama-sama tidak baiknya, sebab KDRT bukanlah gambaran dari keluarga yang harmonis dan penuh kasih. Kekerasan dalam rumah tangga perlu dihapuskan, tapi bukan dengan cara memojokkan salah satu pihak, melainkan dengan memberi informasi, pengarahan, bimbingan kepada siapa saja yang akan membentuk sebuah rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan bukan hanya sekedar mengucap akad nikah ,tapi juga akad untuk membangun rumah tangga sakinah mawadah wa rahmah, Akad untuk meninggalkan kemaksiatan, Akad untuk saling mencintai karena Allah, Akad untuk saling menghormati dan menghargai, Akad untuk saling menerima apa adanya, Akad untuk saling menguatkan keimanan, Akad untuk saling membantu dan meringankan beban, Akad untuk saling menasihati, Akad untuk setia kepada pasangannya dalam suka dan duka, dalam kefakiran dan kekayaan, dalam sakit dan sehat, Akad untuk meniti hari-hari dalam kebersamaan, Akad untuk saling melindungi, Akad untuk saling memberikan rasa aman, Akad untuk saling mempercayai, Akad untuk saling menutupi aib, Akad  untuk saling mencurahkan perasaan, Akad untuk berlomba menunaikan kewajiban, Akad untuk saling memaafkan kesalahan, Akad untuk tidak menyimpan dendam dan kemarahan, Akad untuk tidak mengungkit-ungkit kelemahan, kekurangan dan kesalahan, Akad untuk tidak melakukan pelanggaran, Akad untuk tidak saling menyakiti hati dan perasaan, Akad untuk tidak saling menyakiti badan, Akad untuk lembut dalam perkataan, Akad untuk santun dalam pergaulan, Akad untuk indah dalam penampilan, Akad untuk mesra dalam mengungkapkan keinginan, Akad untuk saling mengembangkan potensi diri, Akad untuk adanya saling keterbukaan yang melegakan, Akad untuk saling menumpahkan kasih sayang, Akad untuk saling merindukan, Akad untuk tidak adanya pemaksaan kehendak, Akad untuk tidak saling membiarkan, Akad untuk tidak saling meninggalkan, Akad untuk menebarkan kebajikan, Akad untuk mencetak generasi berkualitas, Akad untuk siap menjadi bapak dan ibu bagi anak-anak, Akad untuk membangun peradaban, Akad untuk segala yang bermakna kebaikan !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Berbahagia&lt;br /&gt;Mugi Subagyo&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7081155753074525083-3859145969066636931?l=mugi-bangsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/feeds/3859145969066636931/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7081155753074525083&amp;postID=3859145969066636931&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/3859145969066636931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/3859145969066636931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/2007/07/kdrt-dan-akad-pernikahan.html' title='KDRT DAN AKAD PERNIKAHAN'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7081155753074525083.post-5732602462155244147</id><published>2007-06-22T13:40:00.001+07:00</published><updated>2007-06-22T13:40:55.168+07:00</updated><title type='text'>Lomba Mengekspos Banjir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/banjir.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 160px; height: 115px;" src="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/banjir.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;Intensitas banjir yang terus meningkat sejak 2 hingga 3 Februari 2007, mempunyai efek musibah yang menimpa masyarakat Jakarta dan kota-kota selingkungannya. Banjir yang diderita sebagian besar penduduk Jakarta ini dijadikan komoditi yang laku di pasaran media elektronik, khususnya televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kejadian menarik yang belakangan terjadi dari cara reporter-reporter pertelevisian tersebut dalam menyampaikan berita banjir.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Awalnya reporter banjir dari TV A mengabarkan kejadian banjir yang tampak di belakang sang reporter (sambil berendam di air hingga selutut), lalu TV B menyiarkan banjir di wilayah lain sambil membenamkan dirinya hingga sebatas perut, reporter lain lagi sambil sedikit gamang (karna air hampir melebihi batas dadanya) bercerita hebatnya banjir kali ini, bahkan ada reporter yang sambil berpegangan pada seutas tali memberitahukan melalui mikrofon di tangan satunya mengenai posisi dia berdiri yang tidak menyentuh dasar.  Hebat kan??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena tidak semua stasiun TV dapat saya saksikan langsung secara bersamaan, saya tidak melihat bantuan berarti dari media televisi, kecuali evakuasi yang dilakukan oleh sebuah stasiun TV menggunakan mobil operasionalnya. Mereka hanya menanyakan para korban banjir tentang sudah dapat atau belum bantuan pemerintah yang dijanjikan. Sementara reporter radio-radio swasta yang saya pantau, benar-benar memberikan informasi yang sangat berguna dengan menginformasikan wilayah mana yang membutuhkan konsumsi, obat-obatan, lotion anti nyamuk, tenda darurat, hingga wilayah mana saja yang sudah cukup, hingga bantuan dapat di arahkan ke wilayah banjir lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara yang dilakukan para reporter radio tersebut sungguh sangat membantu saya dalam hal bantuan yang saya distribusikan, meski saya sendiri bertemu langsung dengan para korban banjir, namun memiliki kemampuan pemantauan yang jauh lebih rendah dibanding para reporter radio tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang jelas disini, rekan-rekan reporter televisi kita hanya mementingkan beritanya yang "wah" dengan lomba menemukan lokasi banjir dengan ketinggian air lebih tinggi. Mereka cenderung mengutamakan tanggung jawabnya sebagai reporter yang hanya sekedar mereport/melaporkan saja kejadian di sekitarnya, dan nurani atau kemanusiaannya kurang tersentuh untuk melakukan lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan Pemerintah&lt;br /&gt;Aneh juga melihat Pemda memberikan bantuan yang serba kurang persiapan juga keberanian. Coba saja lihat bila ada tim penolong yang berani melawan arus demi mengevakuasi, memberikan bantuan pangan untuk orang-orang yang terjebak banjir, tim tersebut pasti dari pihak swasta, misal Wanadri, Arus Liar, Mapala dll. Lalu lihat juga bantuan yang diberikan pihak swasta, baik masyarakat lingkungan sekitar banjir atau masyarakat lain, mereka memberikan bantuan yang lebih berarti, lebih tepat dan lebih berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bantuan kecil (minor) dari pemerintah sebetulnya kurang tepat. Sebaiknya pemerintah mengurusi hal-hal yang lebih besar, misalkan mengurus banjir kanal, membuat bendungan-bendungan memperhatikan kelancaran arus air sungai. Bukan hal-hal sepele yang pasti dapat dilakukan masyarakat umum dengan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saja banjir ini segera berakhir, karena bukan hanya kerugian yang ditimbulkan banjir yang kita sesalkan, tapi yang lebih berat adalah bahwa sesungguhnya kita sudah mengetahui hal ini akan terjadi, namun kita hanya bisa pasrah menerimanya. Sebegitu sajakah bangsa yang besar ini?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7081155753074525083-5732602462155244147?l=mugi-bangsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/feeds/5732602462155244147/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7081155753074525083&amp;postID=5732602462155244147&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/5732602462155244147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/5732602462155244147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/2007/06/lomba-mengekspos-banjir.html' title='Lomba Mengekspos Banjir'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/th_banjir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7081155753074525083.post-5274913951145845436</id><published>2007-06-22T13:39:00.001+07:00</published><updated>2007-06-22T13:39:48.120+07:00</updated><title type='text'>Di Langit Ada Surga, di Bumi Ada Putau</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Desain/RokokPolacopy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 112px; height: 94px;" src="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Desain/RokokPolacopy.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mati lagi satu bujangan di kampungku, setelah sebelumnya seseorang yang juga sepergaulan menemui ajal dengan kondisi badan kerontang nyaris tanpa darah. Penampakan mereka sungguh bagai pantulan cermin orang terbungkus bencana kelaparan, yang hanya beda caranya mati.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebenarnya Aku malu mewartakan kampungku sebab nyaris tak ada berita baik. Ya.. memang katanya kampungku tempat strategis, berada di pusat kota besar. Sebelah utara berdiri pasar tua yang cukup besar milik Pemda, begitu pula di bagian selatan, sementara di barat berdiri pusat sebuah kantor militer lengkap dengan asramanya yang mirip atau memang sebuah apartemen karena dibuat bertingkat-tingkat, di sisi timur lebih banyak pemukiman penduduk, meski agak jauh ada sebuah Mal, namun sebelum sampai sana kita akan lewati 2 sampai 3 toko serba ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung ini bernama jalan Ungaran, sebelumnya jalan Menteng Rawa Jelawe yang berubah nama supaya terdengar lebih sejuk. Tidak ada jalan besar, hanya ada jalan yang dapat dilalui sebuah mobil dan selalu repot bila berpapasan dengan mobil lain. Lebih banyak gang-gang satu depa mungkin lebih 1 atau 2 jengkal yang bermuara ke jalan tadi. Berita baiknya adalah terdapat Mushola yang dipergunakan masyarakat setempat untuk menjalankan ibadah sehari-hari atau kegiatan lain seperti pengajian, ceramah agama, perkumpulan organisasi pemuda, dan hebatnya Mushola ini ada di setiap gang yang jumlah gangnya itu sendiri tak sempat aku menghitungnya meski sudah tinggal disini lebih dari 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di balik cahaya pasti ada kegelapan, seperti halnya siang bergandengan dengan malam, di kampung ini lengkap dengan semua dosa/kesalahan yang dapat disebutkan manusia dewasa yang sehat tentunya. Tidak akan cukup kiranya dosa itu saya tuliskan disini, hanya cukup kita tahu bahwa sungguh sangat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat mana yang malamnya selalu berhias judi? Klub malam atau bahkan lokalisasi sekalipun akan menunda keasyikannya saat bulan puasa atau di hari besar keagamaan, tapi tidak disini.. Lalu zina, jenis kelamin berbeda yang hidup bersama tanpa ikatan, tumpah ruah minuman penghilang akal, merampas hak hidup orang lain, harta, dengan paksa ataupun izin (membodohi orang lain dengan akal bulus) dan ahh.. sungguh tak kan cukup kutuliskan disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan lantaran aliran putih di kampungku tinggal diam, tapi terjadi karena simbiosis mutualisme yang tercipta dari toleransi kedua aliran.. Hitam &amp;amp; Putih, keduanya berkepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aliran putih akan aman dari gangguan pihak luar lingkungan, karena si Aliran hitam adalah garda terdepan dalam mempertahankan kampung. Sebaliknya Aliran Hitam merasa tentram menjalani kegiatan rutinnya dengan beranggapan bahwa Tuhan tidak akan menghukum dia dan kampungnya, sebab banyak orang yang ikhlas menyembah dan berjalan di jalan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan itu semua yang membuat bulu kuduk berdiri. Meski tidak akan pernah dijumpai pemuda-pemudi yang menggunakan narkoba jenis Putau, namun korban yang jatuh mampus mencapai puluhan. Memang tidak sekaligus si pemakai (Pasien) saat menyuntikkan (pakau) putau langsung menemui ajal, biasanya didera penyakit berat berkelanjutan. Penyakit yang dapat dipastikan diderita pasien adalah Hepatitis, dan tak jarang HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat manusia yang meyakini Hari Akhir dan keindahan Surga, maka &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;dengan kesadaran penuh&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; mereka berlomba-lomba sepenuh daya usaha melakukan berbagai kebajikan seperti dicontohkan dalam Kitab Suci.  Berbeda terbalik bagi mereka pecandu narkoba ini, meski mereka sadar bahayanya, namun tidak dapat berbuat banyak hingga terperosok dan makin dalam terperosok, mengikuti kebutuhan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari mengantar jenazah temannya yang juga temanku, Syarif bercerita banyak tentang penyakit yang mendekam dalam tubuh temannya yang kini sebagai mayat ditimbun tanah. Sepertinya dia banyak tahu tentang pemuda-pemudi di kampung ini yang mengkonsumsi putau. Bahwa orang yang pakau haruslah senantiasa makan teratur, minum vitamin dan tidak pernah berbagi pinjam alat injection yang mereka sebut insul (mungkin dari kata insuline).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin tahu lebih jauh, saya coba tanya lebih dalam yang dijawab dengan fasih. Ketika pertanyaan saya bermuara pada dirinya, dia menjawab bahwa sudah lama itu dia tinggalkan, kini dia berada di garis depan untuk mengingatkan teman2nya yang masih terlilit putau. Mungkin karena saat ini Syarif sudah punya bini dan telah beranak pula, hingga kematangan berfikirnya sudah meningkat... betapa membanggakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya kebanggaan itu terlambat bersamaan dengan kesadaran teman saya tersebut. Kuman HIV/AIDS sudah melumpuhkan antibodi dalam darah dan merontokkan sel T yang berfungsi melawan zat yang tidak dikenal tubuh, termasuk virus. Akibatnya dapat diterka, setelah lebih 3 bulan menderitakan sakit berkepanjangan... Syarif berpulang, entah ke pangkuan Tuhan, entah di sisi Tuhan. Semoga saja Tuhan menilai lebih atas niat baik di akhir hayatnya... Amin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7081155753074525083-5274913951145845436?l=mugi-bangsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/feeds/5274913951145845436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7081155753074525083&amp;postID=5274913951145845436&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/5274913951145845436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/5274913951145845436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/2007/06/di-langit-ada-surga-di-bumi-ada-putau.html' title='Di Langit Ada Surga, di Bumi Ada Putau'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Desain/th_RokokPolacopy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7081155753074525083.post-6404757513513422202</id><published>2007-06-22T13:37:00.002+07:00</published><updated>2009-12-26T20:55:18.102+07:00</updated><title type='text'>Berkulit tak Berdaging, Gendut tapi Gepeng</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/semar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 156px; height: 176px;" src="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/semar.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Ketika pertanyaan di atas saya lontarkan ke beberapa teman, beragam jawaban yang keluar sungguh membuat hati menjadi geli. Ada-ada saja alasan pendukung yang melatari jawabannya. Namun hanya 3 jawaban akan saya komentari, yaitu : Jawaban salah, jawaban hampir benar dan jawaban yang benar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Jawaban Salah : Pemerintah, Pejabat, Pengusaha;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Alasannya adalah bahwa orang dengan status ini memiliki kemampuan merasakan sesuatu untuk dinikmatinya sebagaimana layaknya kulit yang berfungsi sebagai indera perasa, namun tidak sungguh-sungguh bekerja. Mereka tidak memiliki otot atau daging sehingga tidak mampu melakukan kegiatan fisik dan hanya menjadi penikmat duniawi saja.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Kondisi menikmati ini tentu berakibat badan menjadi tambun, penuh lemak dari tidak adanya energi yang dikeluarkan saat pembakaran lemak, gendut. Kecerdasan yang ada hanya dijadikan sarana berpikir untuk memenuhi kehendak hatinya yang selalu dikerubung nafsu merasakan kenikmatan, sehingga cenderung tanpa moral, jiwa kerdil, mental gepeng.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Tentu saja jawaban ini tidak bisa saya benarkan. Bukan karena takut dibilang mengkritik pejabat, dianggap iri dengan pengusaha atau dicekal pemerintah, tapi jelas terasa jawaban ini dibuat-buat, tidak ada relevansinya. Tidak ada satupun orang dari jawaban ini yang menikmati duniawi tanpa melakukan sesuatu, jelas mereka berusaha, bekerja, meski untuk itu menghalalkan caranya dengan bermain sabun atau kayu. Jelas mereka berdaging bahkan lebih, yang bukan dari diam tanpa melakukan apa-apa. Justru mereka yang gemuk adalah produk dari banyaknya kenikmatan yang direguk, dan kenikmatan ini diperoleh dari gerak mereka, usaha mereka, meski apapun caranya. Moral mereka? Kita hanya tahu dari berita media saja. Bagaimana bisa menilai orang hanya dari 1 sudut pandang. Meski beritanya akurat, pasti ada unsur lain yang didapat si pembuat berita. Tidak ada berita yang murni obyektif, pasti ada kepentingan meski sedikit.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Jawaban Hampir Benar : Rakyat;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Kondisi perekonomian kita secara garis besar memang masih jauh dari tujuan pemerintah. Hal ini mengakibatkan masih ada warga Negara yang menderita busung lapar. Kondisi penderita yang hanya kulit pembalut tulang dan perut buncit, hampir mendekati jawaban yang tepat. Namun tidak ada rakyat yang gepeng, meskipun hanya istilah bahwa status rakyatlah yang membuat mereka selalu ditindas, terjepit. Mereka memang menderita, tapi justru dari penderitaan ini banyak melahirkan orang-orang sukses, berhasil, baik dari segi materil atau spirituil. Tidak ada yang gepeng, kecuali diartikan sebagai &lt;i style=""&gt;GEPENG = Gelandangan dan Pengemis.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Jawaban ini hampir benar karena memang ada hubungan yang cukup erat antara rakyat dengan jawaban yang benar, yaitu seorang tokoh di dunia pewayangan.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Jawaban Benar : Wayang Kulit Semar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya.! Itu Saja..!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7081155753074525083-6404757513513422202?l=mugi-bangsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/feeds/6404757513513422202/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7081155753074525083&amp;postID=6404757513513422202&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/6404757513513422202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/6404757513513422202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/2007/06/berkulit-tak-berdaging-gendut-tapi.html' title='Berkulit tak Berdaging, Gendut tapi Gepeng'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/th_semar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7081155753074525083.post-1596459072849595431</id><published>2007-06-22T13:35:00.000+07:00</published><updated>2007-06-22T13:36:58.855+07:00</updated><title type='text'>Aku Ingin Kelak Sehebat Anak-anakku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4439/2462/1600/996135/FF%201A.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 114px; height: 163px;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4439/2462/200/57633/FF%201A.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cafe de Daun, Kebun Raya Bogor.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasa lelah dan perut keroncongan cukup membatasi gerak kami; Aku dan istriku bermaksud melepasnya dengan memesan makan minum dan beristirahat, namun tidak demikian dengan kedua anakku. Meski mereka bersedia masuk ke sebuah ruang yang hanya dibatasi pagar rendah dari kayu, tempat orang-orang makan, tapi tidak cukup patuh untuk mereka duduk diam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam usahaku meredam marah, kucoba untuk menenangkan istriku dan mengajaknya merenung. Salahkah kami dalam mendidik? Benarkah anak-anak harus patuh total, layaknya orangtua kami mendidik dengan disiplin paksaan? Atau adakah yang tidak kami ketahui, mungkin terlewatkan saat masa kanak-kanak dahulu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bisa dicegah, pikiranku mencoba menyusup alam pikiran kedua anakku. Namun kayu pengukur yang kupergunakan tidak menghasilkan apa-apa, malah mendatangkan hasutan bahwa mereka anak-anak yang tidak tahu diri, tidak tahu diuntung. Buntutnya, akupun meledak. Kuteriaki kedua anakku untuk duduk diam, lalu memerintah mereka segera makan makanan yang baru saja diantarkan pramusaji. Meski akhirnya mereka patuh, tapi aku tahu mereka tidak menyukainya, hal ini terlihat jelas dari mendung di wajah yang tersirat ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya tidak bahagia? Padahal mereka sudah patuhi semua yang kami perintahkan? Ah.. nak.! Muram kalian justru melukai hati ayah. Lantas kuperhatikan anak keduaku saat ia sedang disuapi ibunya, saat itupula timbul sesal yang kurasakan memaksa untuk merenung;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nak, entah sudah berapa kali lapangan rumput luas di Kebun Raya Bogor ini kamu kitari, padahal berbilang jam sudah kamu jalani. Lelah sepertinya takut mendekati, atau di dekatmu, namun tak kau temani. Sementara Ayah hanya mengamati dan terbawa arus letih tak berperi, padahal 3 tahun umurmu belum kau genapi. Bahkan kakakmupun turut lagi.&lt;br /&gt;”Maafkan Ayah ya.. tadi Ayah marah”&lt;br /&gt;”Soalnya kalian tidak menurut sama Ayah dan Ibu sih.!” kataku membela diri.&lt;br /&gt;Kalian hanya mengangguk sedih. Dan aku coba membujuk mereka dengan iming-iming akan sering mengajak jalan-jalan jika mereka patuh dan mudah diatur, istrikupun mengiyakan. Tapi, Benar! Mereka hanya diam. Anak-anakku tahu bahwa orangtuanya jarang memarahi mereka, sehingga mereka akan sangat merasa bersalah jika sampai Aku marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ayah, maafin Fira ya.!” rajuk anak pertamaku tiba-tiba memecah kesunyian.&lt;br /&gt;”Fabu gak salah, Ayah ! soalnya Fira yang ngajakin Fabu main terus”. Ucap anakku membela adiknya dengan mengabaikan bahwa ayahnya mengetahui bahwa justru dialah terbawa suasana adiknya.&lt;br /&gt;”Ya sudah” jawabku.&lt;br /&gt;”Kamu sebagai kakak dari adikmu, seharusnya bisa memberi contoh untuk tidak main terus menerus” nasihatku. ”Lagipula memang kalian tidak capek? Dan tidak lapar?” lanjutku. Tapi dijawab dengan gelengan kepala yang hampir saja membuatku marah kembali.&lt;br /&gt;”Habis.. Rasanya enak sih Yah!” lanjut anakku singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya? Jadi tidak ada yang dipikirkan mereka saat tadi bermain. Pantas saja! Rupanya itu yang terlewatkan oleh kami, dan mungkin juga orangtua-orangtua lain. Tidak dipikirkan jika terus bermain akan menguras tenaga, tidak berpikir bahwa bergulingan di rumput akan membuat pakaian mereka kotor, bahkan mungkin terluka bila ada benda keras yang terbentur tubuhnya. Kalaupun ada yang sempat mereka pikirkan, mungkin hanya tentang hari ini, bahwa hari ini indah, hari ini kami bahagia bisa bebas bermain, bisa bergulingan di rumput, bisa berlari-lari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa itu coba aku hilangkan dengan pikiran. Apa sih istimewanya? Ini hanya rumput, mereka hanya berlari, bergulingan, sesekali saling bergumul. Tidak ada yang mereka dapatkan untuk bisa dibawa pulang, tidak hadiah, tidak makanan, tidak pula uang, tapi mereka bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Begini saja” kataku.&lt;br /&gt;”Kita habiskan makan dan minum, lalu istirahat sebentar, setelah itu kalian boleh main lagi”&lt;br /&gt;Ucapan ini langsung membuat gerhana di wajah mereka pupus, bersinar kembali.&lt;br /&gt;”Tapi ada syaratnya.!”&lt;br /&gt;”Kalian harus mengajak Ayah juga” lanjutku tanpa menunggu pertanyaan dari anak-anakku tentang apa syarat yang akan diajukan.&lt;br /&gt;”Iya.! Iya boleh Yah.! Jawab anak pertamaku bersemangat.&lt;br /&gt;”Iya Yah.. nanti Ayah yang jadi macan” kata anakku yang kedua setelah diam terus, meski dalam keseharian dia jauh lebih banyak bicara dibanding sang kakak.&lt;br /&gt;”Ah.. Ayah gak mau jadi macan, Ayah maunya jadi jagoannya” candaku.&lt;br /&gt;”Maksud Fabu (dari kata Fathur).. Ayah yang jadi macannya Pawel lenjes (Power Rangers)” Jawab si adik.&lt;br /&gt;”Iya Ayah.. biar macan juga, tapi macan robot” timpal si kakak.&lt;br /&gt;”Oke deh..” jawabku.&lt;br /&gt;”Sekarang habiskan dulu makan kalian” kataku yang sebetulnya sudah tidak perlu, karena sesungguhnya mereka sudah bersemangat sejak tadi menghabiskan makannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Ayah mendapatkan satu lagi ilmu yang diturunkan melalui kalian oleh Pencipta sekaligus Penguasa Alam.  Yah.. memang benar..! begitu Ayah merasai, dapat kunikmati keindahan segala apa yang ada di sekitar, bahkan sesuatu yang indah meski tak dapat diperlihatkan bendanya... Kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi mulai saat ini juga, Ayah akan menikmati segala apa yang ada hari ini, bersendirian, bersama kalian juga ibu. Keceriaan seperti ini sungguh dambaan meski baru sekarang mata ini terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nak, mungkin kasihku padamu sebatas mensyukuri apa yang Tuhan beri atasmu. Tapi cukupkah itu? Yang kudengar Tuhan Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha Kaya. Ilmu yang dicurahkanNya tiada henti. Tak Ayah sangka itupun ada padamu, yang kau ajarkan dengan prilakumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nak, maafkan kebodohan Ayah..&lt;br /&gt;Ajarkanlah Ayah tentang dunia, tentang manusia, tentang nurani......&lt;br /&gt;Ayah akan meminta banyak rejeki dan kesehatan dari Tuhan untuk kalian.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7081155753074525083-1596459072849595431?l=mugi-bangsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/feeds/1596459072849595431/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7081155753074525083&amp;postID=1596459072849595431&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/1596459072849595431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/1596459072849595431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/2007/06/aku-ingin-kelak-sehebat-anak-anakku.html' title='Aku Ingin Kelak Sehebat Anak-anakku'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7081155753074525083.post-2993669023135787990</id><published>2007-06-22T13:32:00.000+07:00</published><updated>2007-06-22T13:34:12.219+07:00</updated><title type='text'>Adakah Tuhan itu?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Desain/Kaligrafi/ROS68.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 123px; height: 123px;" src="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Desain/Kaligrafi/ROS68.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Membaca tentang Filsafat komunikasi, dijelaskan tentang beberapa tipe cara berpikir manusia, ada yg mitis (terkait dengan mitos), filosofis (terkait dengan filsafat), ilmiah (terkait dengan ilmu pengetahuan), religius (terkait dengan agama).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Filsafat itu bersifat kritis dan selalu mencari jawaban. sebagai contoh, Idul Adha kemarin dirayakan untuk mengingat pada saat Abraham mengorbankan Ismail (versi Islam) atau Ishak (versi Kristen).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertanyaan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mengapa Abraham mau mengorbankan Ismail/Ishak ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban menurut cara berpikir religius:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;karena Tuhan mau melihat seberapa dalam iman Abraham&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cara berpikir filsafat bertanya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bukankah Tuhan itu Maha Tahu ? kalau Dia Maha Tahu, pastilah Dia tahu seberapa dalam iman Abraham. mengapa Dia masih ingin menguji Abraham sementara Dia sudah tahu jawabannya ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Atau seperti ini :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalau Tuhan sudah tahu bahwa manusia ciptaannya itu akan masuk neraka, mengapa ia harus dilahirkan ke dunia ? kenapa Tuhan ngga langsung masukkan dia ke neraka saja ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalau Tuhan itu baik, pastinya Dia ingin melihat dunia ini damai dan semua orang bahagia, tapi kenapa Dia juga menciptakan orang jahat untuk merusak kehidupan orang lain ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan lain :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalau dunia ini akan kiamat dan semuanya berakhir, kenapa Tuhan menciptakan dunia ini ? bukankah Dia tahu bahwa Dia akan memusnahkan semuanya ? kenapa Dia mau memusnahkan semua yang telah Ia ciptakan dengan begitu baik dan indahnya ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Akal Manusia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Manusia diciptakan sebagai makhluk yang penuh dengan kekurangan. Dalam semua sisi kehidupan, kekurangan yang melekat pada manusia ini menyebabkan kemampuan yang dimiliki menjadi sangat terbatas. Salah satu keterbatasan manusia itu adalah kemampuan akalnya. Setiap manusia yang masih bersih fitrahnya akan mengakui hal ini. Akal manusia tidak akan mampu mengetahui hakikat sesuatu secara sempurna, terlebih bila hakikat itu meliputi berbagai permasalahan. Fungsi akal manusia yang paling besar adalah untuk mengetahui hakikat kebenaran. Apa kebenaran sejati itu? Sekali lagi, bagi orang yang fitrahnya masih suci, akan mengakui bahwa kalau hanya dengan akalnya, seorang manusia tidak akan mencapai kebenaran sejati. Banyak hal permasalahan yang jelas tidak akan mampu diselesaikan dengan keterbatasan akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang dapat diterima akal dan diyakini penuhpun dapat berubah menjadi jauh dari kebenaran di waktu selanjutnya, seperti diyakininya pernyataan ilmuwan bahwa bumi sebagai pusat tatasurya, dan benda-benda angkasa berotasi mengelilingi bumi, hal ini berjalan hingga puluhan tahun, sampai Nicolai Copernicus melemparkan gagasan pemikiran bahwa Matahari adalah pusat tatasurya, bukan bumi. Gagasan ini bukan saja ditentang, tapi dianggap pemikiran sesat. Namun seiring kemajuan teknologi, pernyataan Nicolai tersebut terbukti benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami kebenaran mutlak yang disampaikan Tuhan melalui kitabNya dengan menggunakan sains (ilmu pengetahuan) yang bersifat relative, diperlukan sangat kehati-hatian. Sehingga bagi kaum berakal yang menyadari keterbatasan akalnya, akan menyadari bahwa hasil penelitian atau penemuannya saat ini yang dianggap benar, dapat menjadi usang dan tidak berlaku lagi suatu saat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tidak demikian dengan orang-orang yang terlalu “percaya diri” dengan kemampuan akalnya. Orang-orang dengan kecerdasan tinggi ini meyakini pemikirannya sebagai suatu yang kekal. Mereka menciptakan ideologi-ideologi yang berdasar akal semata, seperti komunisme yang meniadakan Tuhan, kapitalisme yang “menyepelekan” Tuhan (ada atau tidaknya Tuhan, tak berarti apa-apa), rasionalisme modern yang hendak menguasai alam dan sekaligus menghancurkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum ini meyakini bahwa baik buruk yang mereka dapat adalah dari apa yang mereka kerjakan, tanpa adanya kuasa Tuhan. Meski demikian, orang-orang ini dapat berbuat kebaikan. Mereka melakukan semua amal kebaikannya tentu bukan karena motivasi keimanan, melainkan motivasi kemanusiaan semata. Mereka melakukan kebaikan itu semata karena dia percaya hal itu baik bagi kemanusiaan. Orang agnotis merasa tidak perlu motivasi iman karena dia juga tak butuh pahala. Maka dia melakukan semua itu tanpa emosi apa pun. Memberi ya memberi saja. Titik. Give and forget. Lain halnya dengan kaum yang mengaku punya iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum beriman melakukan kebaikan demi mencapai rida Tuhan maka tidak bisa tidak emosinya akan terlibat. Jadi wajar kalau orang dewasa bahagia setelah melakukan amal kebaikan. Dengan keyakinan bahwa amal kebaikan menjadi sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, mereka membayangkan nikmatnya bila suatu saat merasa dekat dengan Yang Maha Baik itu. Mereka percaya bahwa orang-orang yang mereka bantu mewakili Tuhan untuk menerima amal kebaikannya. Jadi kebaikan itu diniatkan demi Tuhan, tapi manfaatnya untuk manusia.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Tuhan di Mata Para Ilmuwan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Para ilmuwan dianggap memiliki Tuhan yang berbeda dari kaum teolog. Seperti apakah Tuhan mereka?&lt;br /&gt;Semakin para ilmuwan mendalami bidang ilmunya, semakin ia menemukan nuansa spiritual di dalamnya. Dan karenanya, semakin tinggi keyakinan mereka terhadap keberadaan Tuhan. Ungkapan semacam ini sering dilontarkan para ilmuwan yang berubah menjadi pendakwah agama. Dr. Imaduddin Abdul Rahim (fisika) dan Dr Dadang Hawari (kedokteran) adalah contohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa kesempatan ceramahnya di televisi, Bang Imad, panggilan Dr Imaduddin, memberikan contoh banyaknya ilmuwan yang kembali ke spiritualitas. Salah satu contoh favoritnya adalah Albert Einstein, yang menurut dia tetap mempertahankan agama kendati sibuk memecahkan persoalan-persoalan ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga Dadang Hawari yang sering menyebut nama Dr Maurice Bucaile, ilmuwan asal Perancis yang tertarik terhadap Islam karena mendalami kajian biologi dan hubungannya dengan beberapa doktrin agama. Benarkah para ilmuwan berkecenderungan demikian? Jika Kita buka literatur fisika, pasti Kita akan kecewa. Karena, terlalu banyak tokoh-tokoh ilmuwan yang ternyata ateis, atau paling kurang agnostis terhadap persoalan-persoalan metafisika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutlah Steven Weinberg, Carl Sagan, Roger Penros, Richard Feynman, dan Stephen Hawking. Tokoh-tokoh ini adalah fisikawan sejati yang banyak menelurkan karya dan teori ilmiah. Simaklah apa kata mereka tentang Tuhan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betapa alam raya berjalan penuh dengan keteraturan berdasarkan hukum-hukumnya, sehingga ia tak perlu lagi sang pengatur," tulis Carl Sagan dalam Cosmos, karya monumentalnya. "Semakin kosmologi" menyingkap alam raya ini, semakin tampak bagi kita betapa tak bertujuannya jagat raya ini," ungkap Steven Weinberg, peraih hadiah Nobel dalam bidang fisika pada 1979.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, bagi para ilmuwan itu, teori ledakan besar (big bang), teori yang paling dekat kaitannya dengan penciptaan, hampir tak menyisakan ruang buat Tuhan untuk berkarya. "Semuanya berjalan menurut hukum fisika yang rumit dan sempurna," tulis seorang fisikawan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Jalan Pikiran Tuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Benarkah para ilmuwan seradikal itu dalam memandang Tuhan? Jawabannya, mungkin ya mungkin tidak. Jika Anda percaya pada sebuah penelitian di AS tahun lalu, hanya 40 persen ilmuwan di negeri Paman Sam itu yang percaya adanya Tuhan. Sisanya adalah para ilmuwan yang ateis dan agnostik (Newsweek, 27/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jika melihat sebuah konferensi tentang agama dan ilmu pengetahuan yang digelar di AS bulan lalu, para ilmuwan adalah manusia-manusia "beriman" dan, dalam beberapa hal, percaya dengan kebenaran agama. "Jika Anda menyadari bahwa hukum alam telah melahirkan jagat raya yang begitu teratur, maka hal itu pastilah tidak terjadi semata-mata karena kebetulan. Tapi mesti ada tujuan di balik itu semua," kata John Polkinghorne, ahli fisika yang kini menjadi pendakwah Gereja Anglikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat senada juga diungkapkan Charles Townes, peraih Nobel pada 1964 yang juga hadir dalam konferensi tersebut, "Banyak orang merasakan bahwa pastilah ada sesuatu yang mahapintar di balik kehebatan hukum alam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 300 ilmuwan yang hadir dalam konferensi tersebut memang tidak semuanya percaya kepada Tuhan. Namun, mereka memiliki konsepsi tersendiri tentang Tuhan. John Barrow, misalnya, menganggap adanya ruang buat spiritualitas dalam setiap kajian keilmiahan. Padahal, fisikawan Inggris yang dianggap terbesar setelah Stephen Hawking itu selama ini dikenal kurang peduli terhadap agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ilmuwan memang memiliki konsepsi tersendiri tentang Tuhan. Tuhan mereka, seperti dikatakan banyak pengamat agama, tidaklah terpersonalisasi seperti yang diajarkan para teolog. Karenanya Dr Karlina Leksono, astronom Indonesia yang kini mengajar filsafat di UI, keberatan kalau orang seperti Stephen Hawking dikategorikan sebagai ilmuwan yang ateis. "Dia bukan ateis, tapi sedikit agnostik," katanya dalam suatu kesempatan pada sebuah majalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat agnostik Hawking diperlihatkan dalam tulisan-tulisannya yang agak keras mengkritik Tuhan para teolog. Kendati demikian, ia meyakini keberadaan Tuhan, dan mempercayai bahwa dengan kosmologi yang dibangunnya, suatu saat, ia bisa melihat jalan pikiran Tuhan (the mind of God).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya barangkali, mampukah ilmu pengetahuan itu menyingkap Tuhan? Para ilmuwan yang beriman meyakini bahwa ilmu pengetahuan, kendati tak secara langsung membawa para ilmuwan ke hadapan Tuhan, bisa menggiring mereka ke arah itu. "Kendati sains tak dapat membuktikan eksistensi Tuhan, ia dapat membisikkan kepada ilmuwan di mana jejak-jejak Tuhan itu bisa dicari," ujar seorang ilmuwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ilmuwan "ateis" sendiri tak terlalu memperdulikan apakah Tuhan itu ada atau tidak, dan apakah ilmu pengetahuan bisa atau tidak mengungkapnya. Namun, mereka sepakat dengan kaum beriman bahwa tujuan agama dan sains kedua-duanya sama, yakni mencari kebenaran sejati di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Apa Tuhan itu ada?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengenai akal pikiran yang berlandaskan sains dan akal pikiran berlandaskan keyakinan dapat kita simak dari ilustrasi di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri paman Sam kembali ke tanah air. Sesampainya dirumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, kiai atau siapapun yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya Orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda: Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kyai: Saya hamba Tuhan dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemuda: Anda yakin? sedang Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kyai: Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemuda: Saya punya 3 buah pertanyaan&lt;br /&gt;1)Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya!&lt;br /&gt;2)Apakah yang dinamakan takdir?&lt;br /&gt;3)Kalau syetan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syetan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Kyai tersebut menampar pipi si Pemuda dengan keras.&lt;br /&gt;Pemuda (sambil menahan sakit): Kenapa anda marah kepada saya?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kyai: Saya tidak marah...Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 buah pertanyaan yang anda ajukan kepada saya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemuda: Saya sungguh-sungguh tidak mengerti&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kyai: Bagaimana rasanya tamparan saya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemuda: Tentu saja saya merasakan sakit&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kyai: Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemuda: Ya&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kyai: Tunjukan pada saya wujud sakit itu !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemuda: Saya tidak bisa&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kyai: Itulah jawaban pertanyaan pertama: kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kyai: Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pemuda: Tidak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kyai: Apakah pernah terpikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pemuda: Tidak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kyai: Itulah yang dinamakan Takdir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kyai: Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemuda: kulit&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kyai: Terbuat dari apa pipi anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemuda: kulit&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kyai: Bagaimana rasanya tamparan saya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemuda: sakit&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kyai: Walaupun Syeitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, Jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan Menjadi tempat menyakitkan untuk syeitan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari ilustrasi dan beberapa pemahaman di atas, dapat disimpulkan bahwa kita sebagai manusia yang diciptakan Tuhan dengan beberapa kelebihan dibandingkan dengan mahluk lainnya, sekaligus kekurangannya. Sehingga dalam mencari hakikat kebenaran sejati diperlukan kehati-hatian yang sangat, agar tidak terjerumus ke dalam kegelapan yang sementara dirasakan sebagai terang benderang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran tidak selalu dapat ditunjukkan secara visual, mengingat kemampuan pandang manusia yang juga terbatas.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Saran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan Tuhan tidak perlu lagi diperbincangkan, hal mana semuanya telah jelas bagi kaum yang berfikir. Bila dijadikan sarana untuk mencari kebenaran, perlu diingat untuk menyadari keterbatasan akal manusia dan perlu dicari banyak referensi sebagai rujukan serta pembimbing yang bijak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7081155753074525083-2993669023135787990?l=mugi-bangsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/feeds/2993669023135787990/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7081155753074525083&amp;postID=2993669023135787990&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/2993669023135787990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/2993669023135787990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/2007/06/adakah-tuhan-itu.html' title='Adakah Tuhan itu?'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7081155753074525083.post-67093670685064533</id><published>2007-01-17T11:50:00.000+07:00</published><updated>2007-01-17T11:57:19.538+07:00</updated><title type='text'>Analisis Tragedi Bom Bali</title><content type='html'>Kesempatan kali ini, akan saya coba paparkan beberapa analisa untuk coba membaca pesan politis teror dan efeknya dari sudut pandang beberapa aspek kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari baik tidaknya niat si pelaku melakukan pemboman, banyak manusia berniat baik tapi cara melaksanakannya tidak benar. Begitupula dengan bom bunuh diri, hal mana tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan Nabi-nabi terdahulu, dan tak ada agama yang membenarkan tindakan ini. Kadangkala korbannyapun adalah orang-orang yang tidak boleh dibunuh meski dalam jihad fii sabilillah seperti : anak-anak, orang tua dan wanita! Bahkan orang muslim menjadi korban dari bom bunuh diri ini! Dalam Islam tindakan bunuh diri yang mengakibatkan terbunuhnya sejumlah orang kafir adalah keliru dan hukumnya haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tak ada satupun agama yang membenarkan tindakan peledakan bom dengan atau tanpa bunuh diri, kita dapat menganalisis potensi penumpang gelap yang sengaja memojokkan bahwa pelaku peledakan bom Bali adalah jaringan yang sama, yakni Jamaah Islamiyah. Penumpang gelap yang cenderung mengambil keuntungan dari dinamika politik yang berkembang ini sulit dideteksi dalam prosesnya karena kelompok ini sedemikian cair dalam proses pertarungan politik dan akan melakukan pukulan telak sehingga akan memenangkan kontes politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok ini bisa datang dari komponen kelompok Islam garis keras, kelompok radikal yang tidak berideologi Islam, agen rahasia negara lain, ataupun barisan sakit hati terhadap rezim, mereka semua memiliki probabilitas sama untuk melakukan aksi bom dengan mendiskriminasikan Islam. Kelompok Islam yang selama ini dituding garis keras semisal Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dengan Abu Bakar Ba’asyir sudah lugas dan tegas mengutuk tindakan tersebut, yang dengan keyakinannya bahwa proses memperjuangkan kebenaran Islam yang dilakukan tidak dengan cara-cara Islami justru akan mendestruksi Islam. Dengan demikian kelompok-kelompok di luar Islam bisa jadi lebih berperan besar, bahkan George Bush dan Howard cenderung masih menahan diri untuk tidak mengambil keputusan siapa aktor di balik Bom Bali II.  Artinya dengan mengacu pada kaidah ini, “potensi” bahwa pengeboman dilakukan kelompok Islam yang berpegang teguh pada agama (hanif), dengan sendirinya akan gugur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Hukum &amp; Keadilan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terorisme bukan suatu persoalan agama, tapi sesuatu yang lahir dari ketidakadilan yang disikapi secara brutal karena ketidakberdayaan dan keputusasaan, terorisme tidak akan selesai dengan pembuatan hukum dan peraturan, tetapi mungkin akan terkurangi dengan pemberdayaan serta kemandirian masyarakat, sehingga mampu menyikapi tekanan dan dapat menghadapi persaingan tanpa kebencian dan permusuhan. Masalah internet/cyber, perdagangan, ekonomi, politik  dan banyak aspek, tidak akan terselesaikan begitu saja dengan hukum, akan tetapi Negara-negara yang masih terpuruk infrastruktur hukumnya, akan mencuatkan ketidakadilan yang justru menjadi akar permasalahan. Alih-alih investor yang diinginkan, malah Negara kreditor atau Negara donor yang didapatkan, dimana bantuan atau kredit yang diberikan disertai syarat dan dalam satu paket. Syarat tersebut bisa suatu pemaksaan prinsip-prinsip hukum dan ekonomi Negara-negara maju, yang tidak selalu jelek, tetapi juga tidak selalu cocok. Syarat itu juga bisa berarti titipan yang mesti dijalankan pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati hukum tidak bisa tuntas menyelesaikan permasalahan, hukum bisa mengatur transparansi yang menumbuhkan kejujuran dan kesempatan yang seimbang untuk semua. Hukum bisa menjamin keadilan, sehingga mampu menekan kekecewaan dan mendidik jiwa satria. Hukum juga mampu menumbuhkan etika dan tata karma, karena pelanggarnya bisa dikesampingkan dari pergaulan dalam tatanan yang beradab. Hukum juga mampu mengangkat harkat dan martabat masyarakat atau Negara ke tatanan ekonomi dan pergaulan dunia yang baru dan berkesetaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Posisi Bali sebagai tujuan wisata utama Indonesia dibuktikan dari sumbangannya terhadap devisa Negara. Devisa Negara dari sector pariwisata secara nasional sekitar 5,1 milliar dollar AS per tahun, pariwisata Bali menyumbang lebih dari separuhnya yaitu 3 milliar dollar AS. Kenyataannya geliat ekonomi berfondasi industri pariwisata sangat rentan terhadap berbagai isu yang datang dari luar seperti terror bom, perang, wabah penyakit dan lain-lain. Begitu terjadi Bom Bali I, perekonomian langsung timpang, dari kunjungan wisatawan yang berkurang, dampak lanjutannya ke pajak hotel atau restoran yang merosot tajam, sampai ke pembuat kaos dan banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industri pariwisata dapat maju ditentukan oleh jaminan keamanan wilayahnya. Pengamanan tidak hanya mengandalkan kesiapan aparatnya, tetapi masyarakat juga perlu dilibatkan untuk melakukan pengamanan yang sungguh-sungguh dengan melakukan perekrutan yang diberikan penghargaan sepantasnya. Selain keindahan alam, kebudayaan bali diandalkan sebagai kekuatan utama harus didukung dengan perkembangan pertanian organik. Pertanian dalam arti luas perlu dapat perhatian khusus sehingga pada saatnya nanti Bali tidak perlu pincang karena ledakan bom, lagipula dimana keindahannya kalau pertanian yang ada selama ini hilang semua berganti restoran dan atau kafe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Hak Asasi Manusia (HAM) &amp; Nilai Kebaikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tindakan teroris bukanlah tindakan yang irasional, tetapi jelas rasional, ini terlihat dalam idealisme yang diperjuangkan. Aksi mereka memang sangat emosional, tetapi perlu dilihat sebagai frustasi yang muncul dalam idealisme mereka. Terorisme dapat dilakukan individu atau kelompok, dan jika berkelompok mereka perlu adanya system orgnisatoris dan hierarkis yang memiliki pemimpin dan terutama pengikut. Mereka melakukan sasaran untuk mempengaruhi kebijakan-kebijakan politis berskala internasional dan menjadikan kemarahan pemerintah dan publik sebagai sesuatu yang menyenangkan. Kelompok teroris dalam pelaksanaan perekrutannya bisa dengan menyuarakan perasaan senasib dan solidaritas kematian anggota kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita cermati, pelaku bom bunuh diri adalah pemuda-pemuda yang masih dewasa awal (20-30 tahun), usia yang masih mencari jati diri yang ketika menjalani tahap tertentu akan mengalami konflik dan bila tidak diselesaikan akan menghambat perkembangannya. Bentuk ekstrim kegagalan dalam membentuk jati diri adalah munculnya jati diri negatif, yaitu gambaran diri yang bertolak belakang dengan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, sehingga berani melakukan yang dilarang masyarakat. Sebenarnya mereka menyadari sepenuh hati penyimpangan itu, namun memilih untuk menekannya ke alam bawah sadar. Kesadaran akan penyimpangan itu terobati manakala mereka bisa menemukan orang lain yang senasib. Para teroris bukanlah produk agama melainkan produk keluarga, yang mengharuskan anak harus berprestasi gemilang, jika prestasi atau jati diri positif mustahil dicapai, anak-anak lebih suka diberi label “buruk”, dengan begitu mereka tinggal menunggu bertemu dengan orang yang senasib untuk kemudian menjadi bagian dalam subkultur radikal. Kita dapat membendungnya dengan mempropagandakan gerakan kembali pada cinta dan perhatian pada anak-anak yang tumbuh dan berkembang dalam keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Hubungan Luar Negri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari pasca peledakan Bom Bali II, Biro Investigasi Federal (FBI) AS menyatakan kesediannya membantu Polda Bali, hal senada juga didapat dari Polisi Federal Australia (AFP). Namun kita perlu skeptis dalam menyikapi bantuan yang diberikan oleh Negara-negara lain, mengingat kepentingan yang dimiliki oleh Negara-negara tersebut. Seperti halnya Australia yang mendesak Indonesia untuk memberi izin bagi Negara-negara lain memberi bantuan menangani terorisme di seluruh wilayah kepulauan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap ini diperlukan karena pelaku utama yang menjadi penyokong dana bagi aksi terorisme dan pasti berniat mengambil keuntungan lebih banyak dari apa yang telah mereka berikan masih belum ada titik terang, jangan sampai wewenang yang akan diberikan disalahgunakan dengan interpretasi yang berbeda.&lt;br /&gt;Hubungan Indonesia dengan dunia internasional tidak banyak berpengaruh pasca peledakan bom, selama Indonesia dapat mengambil kebijakan pemerintahan yang tepat dan berhati-hati atas kepentingan Negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. Pengawasan Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, ledakan bom sepertinya hanya masalah waktu dan sasaran saja. Selebihnya para teroris memiliki segalanya, mulai dari kesempatan berhimpun, perlindungan dari sekelompok masyarakat, kemudahan beridentitas lebih dari satu, kesempatan yang luas untuk memengaruhi pengikut sebagai akibat melebarnya disparitas kaya-miskin hingga belum adanya kesempatan menggunakan laporan intelijen sebagai alat bukti dalam penyelidikan atau persidangan. Ditambah lagi system keamanan dan intelijen yang juga lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Tetapi UU ini lebih banyak mengandalkan penyidikan yang bersandar pada bukti empiris (lapangan) sebagai alat bukti, belum pada data laporan intelijen. Sedangkan bukti empiris sejauh ini hanya dapat mengungkap operator pelaku di lapangan, bukan dalang pengeboman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polisi hanya memiliki kewenangan memeriksa dan melakukan pembuktian terhadap seseorang yang diduga terlibat terorisme dalam waktu 7 X 24 jam, bila tidak terbukti, meski faktanya orang yang dicurigai tersebut memiliki paradigma aspek ajaran yang radikalisme, polisi tidak berhak menahan mereka. Untuk itu diperlukan keluwesan seperti ISA di Malaysia, sehingga polisi memiliki kewenangan untuk menginterogasi seseorang yang dicurigai berdasar laporan intelijen tanpa harus menunjukkan bukti empiris. Bukti lapangan hanya bisa didapatkan setelah terjadi tragedi dan hanya dapat menunjukkan pelaku, bukan otak peledakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa mengambil pelajaran bahwa Indonesia kini menjadi ladang subur bagi terorisme, antara lain karena rendahnya partisipasi publik serta lemahnya penegakan hukum. Untuk itu kita bisa mengadopsi Internal Secutiry Act (ISA) dari Negara tetangga: Malaysia dan Singapura, untuk kemudian disesuaikan dengan hukum yang berlaku di Indonesia dengan tidak melupakan apa yang tertuang pada Human Right.&lt;br /&gt;Perangkat kelembagaan untuk menangani terorisme, harus ditangani lintas departemen/instansi, yang bernaung dalam Badan Kontra Terorisme yang merupakan gabungan beberapa departemen/instansi yang selama ini menangani terorisme, jadi penanganan terorisme harus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan semua komponen bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. Nilai Kebenaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Membunuh orang tak berdosa adalah ajaran setan yang biadab. Itu tidak pernah ada dalam tuntunan agama manapun, dan tidak pula dapat dibenarkan teror mengatasnamakan agama dan Tuhan. Kalaupun pelaku beragama, sebenarnya mereka melecehkan agama karena tindakannya menciderai rasa kemanusiaan. Mereka menafsirkan kitab suci sesuai kepentingan mereka sebagai pembelaan dalam menjalankan misi merusak tatanan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jihad bukan perjuangan untuk membunuh orang-orang tak berdosa, dan bukan pula usaha untuk menghancurkan tatanan kehidupan dan menghancurkan peradaban. Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan umatnya menggunakan cara kekerasan untuk membangun peradaban, dicari sampai ke ujung duniapun tidak akan ditemukan ada ajaran Islam yang menyebut peledakan bom, bunuh diri, membunuh orang lain yang tak berdosa adalah tindakan berjihad seperti paradigma yang didoktrin oleh dalang kepada pelaku peledakan bom. Peristiwa itu tak lain adalah keinginan kelompok yang mengambil keuntungan dari kekacauan yang terjadi. Tak perduli apapun motifnya, Terorisme adalah musuh semua umat beragama dan semua bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terorisme adalah tindak kriminal murni, bukan produk agama seperti yang coba divisualisasikan pelaku peledakan dengan mengatasnamakan Tuhan. Akibat sistem keyakinan tertutup, maka mereka menutup ide-ide atau pemikiran lain. Sistem itu dapat diakibatkan dari kurangnya wawasan atau informasi lain, sehingga seseorang mengalami perasaan terikat secara berlebihan yang disertai penilaian buruk terhadap orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah dengan hukum dan kebijakannya dapat menciptakan jurang yang semakin lebar dan semakin dalam antara si kaya-miskin. Hal ini berakibat terjadinya kecemburuan dan rasa terisolasi yang berdampak negative dalam pencarian jati diri seseorang. Keluarga juga memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk jiwa dan mentalitas anak. Semua komponen bangsa termasuk masyarakat ikut andil dalam menciptakan iklim yang kondusif.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7081155753074525083-67093670685064533?l=mugi-bangsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/feeds/67093670685064533/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7081155753074525083&amp;postID=67093670685064533&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/67093670685064533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/67093670685064533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/2007/01/analisis-tragedi-bom-bali.html' title='Analisis Tragedi Bom Bali'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7081155753074525083.post-5447579162819960978</id><published>2007-01-17T11:37:00.000+07:00</published><updated>2007-01-23T10:00:47.527+07:00</updated><title type='text'>Arsip Lama Dana Kompensasi BBM</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meski beberapa hari menjelang harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dinaikkan terjadi demo yang cukup banyak dari berbagai kalangan, mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jawa, Front Aksi Mahasiswa Trisakti, Front Aksi Mahsiswa UI, Front Kota, Forum Umat Islam, mantan presiden Megawati Soekarno Putri, sampai mantan presiden Abdurrahman Wahid bersama Aliansi Mahasiswa dan Rakyat Bersatu serta beberapa kalangan yang tidak cukup untuk disebutkan disini, namun demi menyelamatkan bangsa dengan dalih perhitungan anggaran Negara akan terkuras banyak untuk subsidi BBM, yang dapat menyebabkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;subsidi untuk sektor pendidikan, kesehatan dan sektor pembangunan yang lain menjadi sangat kecil, maka kenaikan BBM yang diakui pemerintah sebagai keputusan tak popular berhasil dengan gemilang naik tinggi dan keterlaluan. Harga baru berlaku per 1 Oktober 2005 yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2005 sebagai berikut :&lt;br /&gt;• Minyak tanah/liter Rp. 700,- menjadi Rp. 2.000,- (naik 185,7%)&lt;br /&gt;• Minyak Solar/liter Rp. Rp. 2.100,- menjadi Rp. 4.300,- (naik 104,76%)&lt;br /&gt;• Premium/liter Rp. 2.400,- menjadi Rp. 4.500,- (naik 87,5%)&lt;br /&gt;Harga tersebut di atas dengan nilai average mencapai 107% yang sudah menghenyakkan banyak orang pun akan kembali naik mengingat premium dan solar baru 80%, sedangkan minyak tanah masih 40% dari harga pasar dunia. Pemerintah menargetkan Premium akan mencapai harga keekonomiannya pada 1 Januari 2007, Solar pada 1 Juli 2007 dan minyak tanah pada Januari 2008. Padahal jauh sebelum berita kenaikan tersebut diumumkan, pemerintah memberikan sinyalemen yang mengarah pada statement harga kenaikan tidak akan melebihi 50%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dinilai banyak pengamat merupakan langkah yang sangat berbahaya, mengingat kenaikan harga ini pasti akan mempunyai dampak rentetan yang panjang, terlebih lagi kenaikan ini dilakukan menjelang Lebaran (meski MUI telah meminta secara langsung agar kenaikan harga BBM ditunda hingga Lebaran usai). Meski ada pengamat yang menilai secara ekonomi keputusan pemerintah ini tepat karena menaikkan sekaligus sehingga semua masalah akan terkonsentrasi di tahun 2005, dengan demikian pemulihan ekonomi akan berlangsung cepat di tahun 2006, namun jumlah pengamat tersebut sangat kecil perbandingannya dengan yang bertentangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dampak Kenaikan Harga BBM dan Kompensasinya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semua pihak menyadari bahwa keputusan pemerintah tersebut memiliki dampak yang meluas dan terjadi secara signifikan, karena tidak hanya hanya pemilik industri baik tekstil, garment, elektronika dan industri lain saja yang gamang menghadapi masalah ini, tetapi Perusahaan atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pun ikut kelimpungan. Bisa dibayangkan dahsyatnya dampak kenaikan BBM ini terhadap rakyat kecil yang berada pada level paling bawah. Tampaknya sulit mengharapkan pembatalan pencabutan subsidi, karena selain beban riil pemerintah berat, harus diakui, dampaknya akan buruk bagi para investor lokal maupun global. Kebijakan menjadi bahasa yang dipertaruhkan karena menyangkut kredibilitas. Beberapa dampak akan saya coba paparkan disini:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Ketepatan Subsidi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat dijejali dengan propaganda yang menyesatkan, seolah subsidi berlaku dan diberikan hanya bagi orang miskin, karena itu ketika dinilai salah sasaran, subsidi bagi kaum miskin bisa dengan mudah dihentikan. Dengan mengambil data tahun 2000 kita mencatat pemerintah menyuntikkan dana kepada industri perbankan sebesar Rp. 257 triliun, sementara di tahun yang sama subsidi untuk listrik, pangan, pendidikan, kesehatan, pertanian dan BBM tidak lebih dari Rp. 30,828 triliun. Pada tahun 2002 pemerintah mengeluarkan kebijakan dalam kasus BLBI dalam bentuk Letter of Release and Discharge kepada sejumlah konglomerat dengan mengeluarkan subsidi sebesar Rp. 75 triliun. Alhasil anggaran Negara lebih banyak dialokasikan untuk membayar hutang ketimbang membiayai pembangunan. Lalu dimana sumber kemacetan ekonomi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu hitungan rumit menggunakan logika International Monetary Fund (IMF) yang mengarahkan kemacetan ekonomi ada pada subsidi BBM, tapi penyebab kemacetan ekonomi yang utama adalah perkara ketidakadilan. Bicara subsidi  bagi rakyat miskin terkait 2 hal yaitu “Nilai Subsidi” dan “Implementasi”. Yang dipersoalkan selama ini lebih pada implementasi, bukan baik buruknya subsidi. Jika masalahnya pada implementasi, maka perbaiki implementasi tersebut, bukan dengan meniadakan subsidi, jika perkaranya karena keterbatasan dana, banyak data menunjukkan subsidi bagi kaum kaya jauh lebih besar ketimbang subsidi bagi kaum miskin. Subsidi bagi kaum miskin bukan dalam bentuk barang atau uang, karena sulit diakses, subsidi ini lebih tepat untuk keadaan darurat. Subsidi akan lebih berarti bila dialokasikan dalam bentuk realokasi sumber daya dan modal yang selama ini hanya dinikmati kelompok tertentu. Akses atas modal, ruang, lahan, informasi dan pendidikan murah adalah bentuk subsidi yang paling banyak mereka harapkan, jadi berikan pancing, kail, umpan dan cara penggunaannya, bukan diberikan ikan untuk digoreng, dimakan, habis, lalu kelaparan lagi. Jika pemerintah tidak mampu memberikan subsidi macam ini, setidaknya berikanlah subsidi rasa aman, bebas dari perampasan hak milik, bebas memegang agama dan keyakinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Bantuan Langsung Tunai (BLT)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengimbangi keputusan nekat menaikkan harga BBM tersebut, pemerintah mengeluarkan kebijakan kompensasi kenaikan dalam BLT, sebuah kebijakan yang lahir dari balik meja tanpa melihat, mendengar apalagi merasakan kesulitan kaum miskin dan pasti sesat dalam memprediksi dampaknya di lapangan. BLT yang penentuan kriteria awalnya sudah keliru tentang keluarga miskin yang berhak mendapatkan bila penghasilan keluarga miskin tersebut sebesar Rp. 175.000,-, hanya menghasilkan kecemburuan sosial, kerusuhan, kesengsaraan (mengingat tidak semua yang mendapat BLT mampu mendatangi tempat tunjangan untuk hidup 3 bulan, dari segi kesehatan atau gografis malah beberapa ada yang tewas saat mengantri BLT), penyelewengan atau penyalahgunaan wewenang dari ketidaktahuan sampai kasus Muara Bungo yang menewaskan ketua RT karena ditikam warganya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya kegagalan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan beras untuk keluarga miskin (raskin) belum cukup menjadi pelajaran berharga atas ketidakefektifannya sebagai usaha mengentaskan kemiskinan. Banyak alternative lain yang bisa dijadikan pengganti BLT yang gelap akan target apa yang hendak dicapai, berapa lama kompensasi tersebut diberikan? Sampai mereka kaya dengan modal Rp. 100.000,- yang diberikan tiap bulan? Jadi untuk tidak menambah acak-adut kondisi yang sudah ruwet ini, BLT dikubur saja. Alternatif yang perlu dipikirkan antara lain :&lt;br /&gt;a) Menyediakan dana dari APBN untuk mengadakan bufferstock minyak tanah, solar, premium dan beras, dengan patokan yang jelas dan pasti terjangkau rakyat.&lt;br /&gt;b) Mengadakan open market policy dalam hal kebijakan bufferstock itu, jika harga berada di atas harga yang dipatok pemerintah. Pembebasan bea masuk pasokan minyak tanah, solar, premium dan beras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Energi Alternatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Naiknya harga minyak tanah yang mencapai 185,7% masih ditambah berat dengan kelangkaan bahan bakar tersebut beredar di masyarakat, menyebabkan masyarakat miskin yang survive memilih menggunakan kompor briket berbahan bakar batubara dimana jelas bertentangan dengan program Langit Biru yang digemborkan pemerintah belum lama berselang. Namun pemakaian kompor briket batubara yang ramai diberitakan media massa tersebut justru menjadi ide buat pemerintah untuk melaksanakan “siasat politik” guna meredam gejolak sosial dengan memberikan kompensasi BBM dalam bentuk bantuan pemberian 1 milyar kompor briket batubara untuk rakyat miskin. Rupanya pemerintah memandang pers atau media massa sebagai wakil dari public (representative of the public) dengan menganggap laporan atau berita mengenai reaksi masyarakat adalah barometer terbaik bagi berhasilnya kebijakan yang telah dilakukan, dengan mengesampingkan berita yang bertentangan dengan kebijakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Energi alternative bukan hanya batubara yang tampak kasat mata ketidaksehatannya sebagaimana pernyataan WHO, polycyclic aromatic hydrocarbons yang dihasilkan selama pembakaran batubara adalah penyebab kanker tenggorokan dan kanker paru dan zat lain yang dihasilkan meningkatkan resiko infeksi saluran pernafasan dan penyakit pernafasan kronis lainnya, seperti bronchitis dan efisema. Batubara mengandung zat racun seperti sulfur, merkuri, arsenic, selenium, dan fluoride, disamping sulit pengoperasian karena memakan waktu lama. Bahan Bakar Hayati lebih ramah lingkungan dan  dapat dibuat dengan mudah dari semua tanaman yang mengandung minyak untuk digunakan sebagai biodiesel, hal ini sudah dibuktikan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi yang bekerja sama dengan PT. Sido Muncul  dengan mengangkut para pedagang jamu se-Jabotabek untuk mudik lebaran dengan menggunakan bus bertenaga biodiesel. Tidak hanya itu, energi biogas juga dapat digunakan, energi non-BBM berbahan serbuk kayu, ampas tahu dan banyak lagi. Jadi anggaran untuk pembelian 1 milyar kompor briket batubara (tentunya bahan bakar batubara cukup sulit didapat untuk beberapa daerah yang akan menerima bantuan tersebut) sebaiknya dialihkan secara aktif, efektif dan secara segera pada penggunaan energi-energi alternatif tentunya dengan prioritas bagi dapur dan transportasi rakyat, serta industri-industri, yang biaya peralihan dan sebagainya itu dari APBN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Pertanian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Satu dari sekian banyak alasan pemerintah menaikkan harga BBM adalah untuk subsidi di bidang pertanian.Untuk hal satu ini masih sama gelapnya dengan program kompensasi kenaikan BBM lainnya. Belum jelas akan diberikan subsidi macam apa bagi petani di Indonesia, padahal jelas, kaum petani yang menggarap tanah untuk manusia lain, telah dipinggirkan posisinya, disini tanah mengandung moral dan ekonomi bagi manusia. Ekonom Faisal Basri mengatakan, indeks nilai tukar petani (NTP) tahun 2005 ada pada titik terendah pada dasawarsa terakhir, sederhananya, petani ada pada posisi paling lemah di negri ini. Padahal, siapakah yang sebenarnya menyediakan makanan buat kita ? Petani!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan tanah yang lebih baik bukan cara komunal seperti sebelumnya, tetapi justru dengan membentuk lembaga yang menyewakan tanah pada petani, sebagai mana petani di Inggris menyewa tanah pada Sang Ratu. Dengan demikian dapat dihindarkan penguasaan tanah pada tangan-tangan yang sama sekali tak mengeluarkan keringat untuk menggarapnya. Penghargaan pada petani dapat meningkatkan penghasilan mereka dan menyebabkan naiknya harga produk pertanian. Kenaikan ini harus diikuti naiknya penghargaan pada pekerja sektor lain sehingga NTP juga akan naik, bukan terpuruk seperti saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Bantuan Operasional Sekolah (BOS)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Melalui pemberian dana kompensasi BBM, yaitu BOS, dimaksudkan agar sekolah gratis, tetapi dalam praktiknya bantuan tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya. BOS ditujukan kepada seluruh pendidikan dasar dari tingkat SD dan Madrasah Ibtidaiyah(MI) serta tingkat SMP dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), dengan jumlah total Rp. 5,136 triliun, sampai kini telah terkucur lebih dari 90,68% atau sebesar Rp. 4.657 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain perlunya diadakan audit, subsidi BOS ini perlu dipublikasikan karena sejauh ini belum semua warga yang mengetahui adanya dana BOS, kondisi demikian sangat rawan penyalahgunaan oleh pihak birokrasi maupun pengelolanya sendiri, kalau di Jakarta saja banyak masyarakat yang belum mengetahui keberadaan BOS, bagaimana daerah pelosok seperti Aceh, Papua atau pacitan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. Kesehatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dana kompensasi BBM untuk subsidi kesehatan lebih tidak enak lagi untuk dibicarakan, sampai-sampai ada anekdot “Orang miskin dilarang sakit”. Kartu keluarga miskin (GAKIN) yang seyogyanya dapat digunakan untuk meringankan si miskin berobat, ditolak mentah-mentah di rumah sakit manapun di Indonesia dan hanya berlaku untuk pembelian obat-obatan murah (generik), tidak berlaku untuk pemeriksaan dan hal lain di luar obat tadi. Disamping kesehatan badan, pemerintah kita sepertinya tidak memiliki orang yang paham psikologi massa yang dapat memberikan masukan kepada pemerintah dalam mengambil kebijakan, sehingga pemerintah cenderung mengambil “jalan pintas” untuk mengatasi persoalan tanpa memedulikan kondisi psikologi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah perlu merekrut orang yang paham psikologi massa, sehingga tidak cukup hanya berharap masyarakat sabar dan menerima tetapi akhirnya ngamuk juga. Kecenderungan melakukan tindakan anarkis adalah dampak yang timbul dari depressi massal, karena semua orang (kaum miskin) tertindas oleh ketidak adilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan yang telah diputuskan pemerintah tampaknya sulit untuk dilakukan pembatalan pencabutan subsidi BBM, sehingga alternative penyelesaian dari dampak yang ditimbulkan dari kebijakan tersebut harus dirancang dengan baik, tidak asal dan tentunya dengan keseriusan, bukan untuk konsumsi politik belaka.&lt;br /&gt;Masih banyak alternatif lain yang bisa dijalankan asal diimplementasikan dengan baik (plan, do, control).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan jumlah penduduk lebih dari 230 juta jiwa, Indonesia adalah raksasa yang memilik pangsa pasar sangat besar dibandingkan Negara ASEAN lainnya. Namun semua tergantung pemerintah Indonesia, kalau bisa menyediakan iklim investasi yang lebih baik, kondusif dan pasti melakukan kebijakn pemerintah yang tepat, sudah pasti Indonesia akan memenangi persaingan dalam memperebutkan investasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7081155753074525083-5447579162819960978?l=mugi-bangsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/feeds/5447579162819960978/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7081155753074525083&amp;postID=5447579162819960978&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/5447579162819960978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/5447579162819960978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/2007/01/arsip-lama-dana-kompensasi-bbm.html' title='Arsip Lama Dana Kompensasi BBM'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7081155753074525083.post-5472745603798406044</id><published>2007-01-17T11:31:00.000+07:00</published><updated>2007-01-23T10:02:49.795+07:00</updated><title type='text'>Memposisikan Buku Ajar Hasil Unduhan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rencana Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) mengisi situs miliknya dengan buku elektronik yang dapat diunduh gratis, boleh jadi terinspirasi oleh perusahaan database search engine terkenal, Google. Pada Agustus 2006, dari markasnya di Mountain View, California, Amerika Serikat, Google mengumumkan layanan terbarunya berupa “google books search”, sebuah layanan pencarian buku yang siap unduh dalam format PDF.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bedanya, bila Google menampilkan judul buku-buku yang dapat diunduh adalah yag tergolong klasik, artinya sudah menjadi public domain, seperti karya-karya dari Shakespeare, Isaac Newton dengan “Principia’nya, Dante dengan “Inferno”nya, yang kesemuanya merupakan buah kerja sama dengan banyak perpustakaan. Sedangkan Depdiknas memprioritaskan buku yang dapat diunduh adalah buku wajib pelajaran, lalu tahap demi tahap merambat ke buku lain yang turut mendukung pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terobosan yang akan dilakukan Depdiknas itu dimaksudkan untuk mengimbangi ketidakmampuan masyarakat membeli buku pelajaran sekolah. Sedangkan komputer dan jaringan telekomunikasi untuk internet bisa disiasati melalui warung internet, jadi hitungannya tetap lebih ekonomis. Hal ini dikatakan oleh Kepala Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Sugiyanto pada salah satu media cetak 05 Oktober 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari pola hukum dan mekanisme penggunaan hak cipta yang sedang dipelajari oleh departemen ini, rencana tersebut sepertinya masih prematur bila dijalankan dalam waktu dekat ini. Mengingat untuk dapat menikmati program ini, pemerintah harus memenuhi sarana dan prasarana bagi sekolah dan lembaga pendidikan, terutama di daerah agar tidak terjadi siswa di kota-kota besar saja yang menikmati fasilitas ini . Bukan hanya itu, ketersediaan pasokan listrik juga perlu diprioritaskan. Kondisi ”Byar-pet!” yang sering terjadi di daerah bahkan di beberapa kota besar, merupakan kendala yang patut diperhitungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Melegalkan yang ilegal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah buku-buku tampil gratis di internet, otomatis jalur distribusi buku terputus. Akibatnya selain banyak tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan, penerbit yang telah dibeli hak cipta buku miliknya, tidak akan mencetak buku tersebut dan memasarkannya. Dengan kata lain tidak akan ada versi cetak dari sebuah buku yang sudah dibeli hak ciptanya dan dapat diunduh gratis di internet. Hal ini berakibat ketiadaan buku tersebut di pasaran dan memaksa siswa untuk mengunduhnya melalui internet, itupun bagi siswa yang melek teknologi internet, bagi yang tidak mengenal internet akan menyeret orangtuanya yang juga belum tentu faham internet untuk mencari dan mengunduh buku yang dibutuhkan. Belum lagi biaya sewa di warung internet, biaya cetak buku per lembar, biaya jilid, lama waktu mengunduh yang juga dipengaruhi kondisi listrik masing-masing daerah. Akibat terburuknya adalah terjadi kekacauan dari ketidaksiapan siswa dalam memenuhi buku ajar yang sesuai kurikulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekacauan yang terjadi dapat menjadi lahan baru orang-orang yang memancing di air keruh. Seseorang tersebut akan mengunduh buku-buku yang diperlukan siswa, kemudian mencetaknya dengan fasilitas yang dimiliki atau dengan modal yang dikeluarkannya, kemudian dijilid lalu dijual ke siswa dengan harga sedikit lebih mahal bila siswa tersebut memperbanyak dengan cara fotokopi. Buku tersebut bahkan bisa saja dijual lebih mahal dari versi cetaknya jika ada, hal ini dimungkinkan karena ketiadaan buku ajar tersebut dalam versi cetak. Apakah tindakan memperbanyak dan menjual-belikan buku hasil unduhan tersebut melanggar UU Hak Cipta? Ingat! Buku itu dapat diunduh siapapun dengan gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Pengalihan Anggaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kenaikan anggaran pendidikan pada RAPBN 2007 yang belum menyentuh angka 20%, patut disyukuri. Karena bila dibandingkan dengan anggaran 2006 yang sebesar Rp. 43,3 triliun, maka anggaran 2007 naik 18,5 persen atau sebesar Rp. 51,3 triliun. Jumlah ini belum termasuk pengeluaran untuk gaji guru yang menjadi bagian dari Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk bidang pendidikan dan anggaran kedinasan. Artinya, jika mau, ada cukup dana yang bisa dialokasikan sebagai subsidi untuk buku-buku pelajaran, sehingga dampaknya lebih menguntungkan buat kebanyakan orang, hal ini lebih bijaksana daripada dimasukkan dalam pos ”program coba-coba”. Atau bila keinginan untuk menampilkan buku-buku yang dapat diunduh gratis melalui situs Depdiknas, merupakan perkembangan global dan wujud dari perpustakaan elektronik, maka sebaiknya mengambil contoh apa yang telah dilakukan Google. Isi situs dengan buku-buku cerita yang sudah menjadi milik publik, seperti ”Malin Kundang”, ”Tangkuban Perahu” dan banyak cerita rakyat lainnya yang dibukukan, juga referensi ilmu pengetahuan. Buku-buku ini tidak bersifat segera, artinya bisa diunduh kapan saja, tidak dibatasi waktu, seperti halnya buku pelajaran yang mesti sudah diunduh, dicetak, dijilid sebelum siswa duduk di kelas pada tahun ajaran baru atau semester baru. Jadi ukurlah dahulu kemampuan diri, sebelum mencontoh program orang lain, apalagi merasa lebih pintar dengan menambah beban dari efek yang akan timbul.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7081155753074525083-5472745603798406044?l=mugi-bangsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/feeds/5472745603798406044/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7081155753074525083&amp;postID=5472745603798406044&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/5472745603798406044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7081155753074525083/posts/default/5472745603798406044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-bangsa.blogspot.com/2007/01/memposisikan-buku-ajar-hasil-unduhan.html' title='Memposisikan Buku Ajar Hasil Unduhan'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
